PSS Peringati Hari Peduli Sampah Nasional Dengan Bersih-bersih Sungai

  • Bagikan
Aksi bersih-bersih Sungai Bibis Karah Surabaya
Surabaya | Komunitas Peduli Sungai Surabaya (PSS) peringati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) dengan melakukan aksi bersih-bersih sungai daerah Bibis Karah Minggu (23/2/2020). Kegiatan ini dimulai pukul 06.00 sampai 10.00 pagi dengan melibatkan beberapa komunitas diantaranya Komunitas Sahabat Bumi, Komunitas Muda Mudi Surabaya, Komunitas Osoji Club, Komunitas Love Surabaya, serta dari unsur Pemerintah Kota didukung oleh Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau Kota Surabaya.
Aktivis Peduli Sungai Surabaya (PSS) dalam hal ini juga mengambil peran, terutama dalam pemberdayaan warga bantaran sungai untuk terlibat aktif dalam mengurangi sampah yang ditimbulkan akibat kegiatan rumah tangga, tujuannya agar sampah tidak sampai di TPA dan dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat sesuai dengan jenis sampah baik organik maupun anorganik. 
“PSS mengajak warga Surabaya untuk bijak nyampah dengan cara melakukan milah sampah dari rumah tangga, sampah organik dimanfaatkan kembali menjadi komposter, dan sampah anorganik dikumpulkan lalu kemudian disetor ke bank sampah, dengan kegiatan warga milah sampah dari rumah, PSS yakin jumlah sampah di Surabaya akan berkurang sampai 80 persen yang berakhir ke TPA,” kata Nor Kholis Penasehat PSS saat di wawancarai berandajatim.com, minggu (23/02/2020).
Kholis menambahkan, tanpa keterlibatan komunitas, warga dan pemerintah, aktivis lingkungan tersebut menilai masalah sampah tidak akan selesai, bahkan Indonesia bersih dan bebas sampah tahun 2025 hanya akan menjadi slogan dan mustahil tercapai.
“Peran komunitas, warga dan pemerintah sangat penting dalam upaya penanganan sampah di Surabaya,” imbuhnya
Diketahui sebelumnya, setiap tanggal 21 Februari, hampir semua daerah di Indonesia memperingati Hari Peduli Sampah Nasional. Peringatan HPSN ini dilatarbelakangi oleh tragedi longsornya timbunan sampah di TPA Leuwi Gajah di Cimahi Bandung Jawa Barat, 15 tahun yang silam, tepatnya pada tanggal 21 Februari 2005.
Bencana yang menewaskan 157 orang tersebut tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai negara dengan pengolahan sampah yang buruk, namun juga menjadi tamparan keras bagi masyarakat Indonesia, terutama pemerintah untuk memperbaiki sistem pengolahan sampah yang baik dan bertanggung jawab. (ba/ip)
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!